sainasmansa

GARA-GARA CEMBURU

In Uncategorized on Februari 8, 2009 at 9:11 am

Ugh! Sebel! Sebel! Sebel! Aida menghentak-hentakkan kakinya. Matanya yang indah menyala penuh amarah. Bibir tipisnya yang manis terasa dilumuri cuka. Tubuhnya yang semampai pun bergetar dalam emosi negatif. Yah, saat ini, detik ini, dari ujung rambut sampai ujung kaki, rasa cemburu tengah menyerangnya dengan sangat dahsyat. Melebihi dahsyatnya tsunami. Gimana gak cemburu coba ngeliat gebetannya sedang ketawa-ketiwi sama the prettiest girl in this school?

Huh! Dasar cewek centil! Lagaknya kayak yang paling keren sejagat. Aida mencibir. Bibirnya mleat-mleot persis tante-tante judes lagi cemburuan sama suaminya.

“Da, lo lagi senam muka ya? Kok, bibir lo pletat-pletot getu sih? Jelek, tau!” Tegur Ike, sahabat dalam suka dan duka Aida.

“Gue lagi bete nih!” Aida berhenti meliuk-liukkan bibirnya.

“Pagi-pagi udah bete. Kenapa? Uang jajan lo dikurangin lagi ya?” Ike memasang muka prihatin. ‘Coz ia tau betul keadaan ekonomi keluarga Aida. Ayah Aida emang sudah meninggal dunia sejak Aida dan adiknya masih duduk di bangku SD. Untunglah, tante Mira, ibunya Aida punya keahlian memasak sehingga meski kehilangan suami yang jadi tulang punggung keluarga, ia dapat menghidupi kedua puterinya dengan membuka usaha catering kecil-kecilan.

Tapi, akhir-akhir ini pelanggan catering tante Mira mulai berkurang. Mungkin karena banyak orang di PHK sehingga mereka lebih suka memasak sendiri ketimbang berlangganan catering. Apalagi, persaingan di bisnis catering juga semakin ketat dengan bertambahnya ibu-ibu yang buka usaha sejenis.

Enggak heran, kalo uang jajan Aida kerap dipangkas bila pelanggan catering sedang sepi. Sometimes, Aida curhat pada Ike bila uang jajannya dipotong. Padahal, sebagai anak yang mengerti banget kesulitan ibunya, Aida sudah sangat berhemat. Tapi yang namanya sekolah ‘kan enggak cuma harus bayar uang sekolah aja. Kadang-kadang, ada biaya-biaya dadakan yang berkaitan dengan kegiatan belajar dan sering kali bikin Aida bete.

“Bukan soal uang jajan. “ Aida menggeleng. “Tapi…tuh !” Aida menunjuk dengan dagunya. “Gayanya…uh…..norak banget!”
“Maksud lo, Deby?” Ike melayangkan pandang ke kelas XII yang terletak di seberang kelas mereka.

“Siapa lagi? Primadona sekolah yang sok kecakepan!” Jawab Aida ketus. “Apa dia gak tau kalo Edgar itu gebetan gue?”

“Baru gebetan ‘kan? Belum jadi doi.” Ike tersenyum geli. “Jadi, sah-sah aja dong.”

“Sah apanya? Dia ‘kan udah punya cowok. Kenapa juga masih pecicilan? Gebetan orang mo diembat juga. “ Aida manyun.

“Udahlah, gak usah marah-marah gitu. Kalo Edgar emang jodoh elo, gak akan kemana-mana deh. Mendingan, kita ke kantin yuk!” Ajak Ike. “Gue baru dapet honor cerpen nih! Mau sarapan gratis, enggak?”
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: